Jumat, 27 Desember 2019

Produktivitas SDM Rendah jadi Sebab Daya Saing Indonesia Lemah

World Economic Forum (WEF) melaporkan tentang peringkat daya saing dari 141 negara di dunia yang disurvei. Laporan bertajuk Global Competitiveness Report 2019 tersebut menempatkan Indonesia pada posisi 50 atau turun 5 peringkat dibanding tahun 2018.
Lantas, apa yang membuat peringkat daya saing Indonesia di tingkat global mengalami kemerosotan pada tahun ini? Kadin membuat analisa terkait penurunan daya saing Indonesia di tingkat dunia.

Masalah Produktivitas

Kadin berpendapat penurunan peringkat competitiveness Indonesia di dunia menurut WEF disebabkan oleh masalah produktivitas SDM yang kalah bersaing dengan negara lain. Produktivitas tenaga kerja lokal masih berada di bawah standar yang dibutuhkan industri.
Di satu sisi, upaya untuk mendongkrak kualitas SDM Indonesia juga belum sepenuhnya membuahkan hasil. Hal ini berbeda dengan negara lain yang lebih cepat berhasil karena mampu membenahi masalah-masalah di sektor ketenagakerjaan.
Meskipun demikian, pemerintah patut diapresiasi karena mulai menjalankan program vokasional. Dengan adanya program tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas SDM yang masih tertinggal dibanding negara lain.
Rendahnya produktivitas kerja juga disebabkan oleh adanya mismatch antara kebutuhan tenaga kerja dengan tenaga kerja yang siap kerja. Persoalan lain yang mempengaruhi turunnya peringkat daya saing Indonesia adalah terkait dengan tingkat produktivitas yang tidak sesuai dengan upah pekerja.
Untuk itu, Kadin mendesak pemerintah untuk  meninjau kembali aturan ketenagakerjaan dan pengupahan. Pasalnya, persoalan upah, produktivitas, dan daya saing akan sangat berpengaruh terhadap kinerja investasi di Indonesia. Apalagi, Indonesia tengah membutuhkan banyak aliran dana investasi untuk mengembangkan sektor-sektor ekonomi produktif.
Di kawasan Asia Tenggara, daya saing Indonesia kalah jauh dengan Singapura yang berada di urutan pertama, Malaysia berada di peringkat 27, dan Thailand berada di ranking 40. Sejatinya, Indonesia punya modal untuk bisa naik peringkat tahun depan.
Dengan jumlah populasi yang mencapai lebih dari 260 juta jiwa, serta adanya kecenderungan peningkatan pendapatan kelas menengah (middle income class) dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu menjadi modal utama bagi bangsa ini untuk mendongkrak produktivitas dan kualitas SDM Indonesia.

Butuh SDM Unggul

Kadin melihat pemerintah memang telah berupaya maksimal untuk meningkatkan kualitas SDM. Namun, masih menghadapi banyak kendala, misalnya masalah pemerataan akses pendidikan yang berkualitas. Hal ini karena letak geografis Indonesia yang masih sulit dijangkau. Disinilah dibutuhkan peran teknologi untuk mempermudah akses pendidikan.
Dengan teknologi, akses pendidikan akan lebih merata. Demikian juga akan banyak tersedia berbagai perangkat pintar yang mendukung program pendidikan di sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan lainnya.
Menciptakan SDM unggul butuh proses dan berkesinambungan, tidak bisa dilakukan secara instan. Mencetak SDM unggul harus dimulai sejak dini. Di sekolah harus mulai diperkenalkan berbagai perangkat pintar. Tujuannya, untuk membantu siswa dalam mendapatkan konten pembelajaran.
Perangkat pintar itu harus dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas belajar mengajar demi membangun SDM unggul dan berkualitas. Indonesia harus belajar dari Singapura yang telah sukses membangun digitalisasi konten untuk mempermudah proses belajar mengajar.
Dalam konteks kepentingan yang lebih besar, selain dalam upaya membangun SDM yang unggul. Kehadiran teknologi berupa perangkat pintar juga diharapkan bisa menjembatani adanya gap antara wilayah kota dan desa menuju akses pendidikan yang berkualitas.
Produktivitas dan SDM yang unggul itu dua hal yang saling terkait dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain. Menurut Kadin Indonesia, produktivitas bisa tercipta jika didukung oleh SDM yang unggul. Dan, peningkatan produktivitas dan kualitas SDM dengan sendirinya akan mendongkrak daya saing Indonesia di tataran global.

0 komentar:

Posting Komentar