Rabu, 08 Mei 2019

Tingginya Stres dalam Kehidupan Bisa Munculkan Rasa Lapar yang Bahayakan Kesuburan


Memiliki kehidupan dengan tingkat stres yang tinggi selama ini dihubungkan dengan peningkatan berat badan pada wanita. Namun ternyata terdapat masalah lain yang tak terduga dan dapat muncul dari stres yang tinggi ini.

Dilansir dari Medical Daily, sebuah penelitian terbaru menyebut bahwa kehidupan penuh stres ini bisa menentukan masa depan keluarganya. Dari sebuah penelitian diketahui bahwa terdapat hubungan antara stres kronis dengan fungsi rendah pada ovarium.

Efek buruk dari stres ini muncul karena adanya hormon bernama ghrelin yang memicu rasa lapar. Peneliti dari RMIT University di Melbourne menyatakan bahwa stres bisa memicu produksi ghrelin yang ketika jumlahnya besar dapat memunculkan nafsu makan dan mencederai fungsi reproduksi seseorang.

"Stres merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan dan sebagian dari kita berurusan dengan hal itu secara efisien dan tanpa masalah kesehatan yang berarti," ujar Luba Sominsky, peneliti dari RMIT.

Sominsky menyebut bahwa masalah kesuburan ini berhubungan dengan stres secara temporer dan efeknya dapat dibatalkan pada wanita muda yang sehat. Walau begitu, pada mereka yang sudah mengalami masalah kesehatan reproduksi ini, dampak kecil pada fungsi ovarium dapat mempengaruhi peluang dan waktu dari konsepsi tersebut.

Hormon ghrelin ini juga memainkan peran penting dalam membantu wanita menjaga kesehatan ovarium mereka. Peneliti dapat menurunkan efek negatif dari stres kronik terhadap organ tubuh ini dengan menutup penerima ghrelin pada sebuah percobaan yang dilakukan terhadap hewan.

Sominsky menyebut bahwa hal yang sama kemungkinan juga dapat terwujud pada manusia.

"Temuan kami membantu menjelaskan peran unik ghrelin dalam hubungan yang rumit ini dan menjadi pijakan bagi kami untuk penelitian selanjutnya yang bisa membantu menemukan cara mengatasi efek dari stres ini terhadap fungsi reproduktif," jelasnya.

Peneliti lain yang terlibat dalam riset ini, Sarah Spencer menyebut bahwa kebiasaan makan juga dapat membalikkan efek dari stres pada kesuburan ini. Tim peneliti menekankan bahwa penelitian lain masih dibutuhkan untuk melihat dampak jangka panjang dari stres kronis terhadap kesuburan dan peran ghrelin dalam membatasi efeknya.

"Dengan memiliki pemahaman lebih baik terhadap peranan ghrelin ini, maka kita selengkah lebih dekat dalam mengembangkan intervensi yang dapat menjaga bagian penting dari sistem reproduksi tubuh ini tetap sehat," tandas Sominsky. 

0 komentar:

Posting Komentar