Kamis, 16 Mei 2019

Kehilangan Lisensi Chip dari ARM, Huawei Makin Pincang


Huawei berada dalam masalah setelah Pemerintah AS memasukkan pabrikan asal Tiongkok tersebut di daftar hitam larangan perdagangan AS.

Langkah ini membuat Huawei terputus lisensinya dengan Android, serta beberapa perusahaan lain seperti Qualcomm dan Intel.

Sebagai dampak dari fenomena ini, salah satu perusahaan chip veteran dunia yakni Arm, juga memutus kontrak dengan Huawei. Menurut analisis dari Android Authority, ini adalah pukulan yang lebih keras ketimbang putusnya hubungan Huawei dari Google.

Pentingnya ARM di Industri Smartphone
Pasalnya, Arm diibaratkan pondasi dari smartphone. Arm bahkan bertanggung jawab pada kinerja sebagian besar smartphone yang ada di dunia. Hampir semua pihak di industri smartphone pun memiliki lisensi dari arsitektur dan instruksi dari Arm.

Arm sendiri merupakan perancang CPU dan GPU yang digunakan semua smartphone di dunia, kecuali iPhone. Jadi, chip besutan Qualcomm, HiSilicon yang memproduksi Kirin dari Huawei, MediaTek, serta Exynos dari Samsung, semua melisensikan teknologinya ke Arm yang merupakan pemilik rancangan desain otak dan kartu grafis semua smartphone Android.

Dengan kehilangan lisensi ini, Huawei tentu layaknya kehilangan cara membuat smartphone modern, dan hanya bisa mengembangkan sekedar ponsel cerdas biasa.

Meski demikian, deretan prosesor produksi Huawei yang sudah ada dan sedang diproduksi seperti Kirin 710, 980, dan 985, masih berdasar lisensi Arm. Namun selanjutnya, nampaknya tidak.

Mungkin Tak Pakai Kirin Lagi
Soal diputusnya lisensi Arm ini, Huawei tak terlalu bisa berbuat banyak. Satu-satunya jalan untuk tetap berada di jalur smartphone adalah menggunakan prosesor dari pembuat chip lain, seperti Samsung Exynos atau MediaTek.

Kebetulan keduanya berbasis di Asia (Exynos Korea Selatan dan MediaTek Taiwan) sehingga tidak ada permasalahan embargo dagang.

Meski demikian, terdapat kemungkinan kalau Arm akan dipaksa hukum AS untuk mengambil tindakan pelarangan untuk ini, sehingga bahkan pembelian chip dari Samsung dan MediaTek pun akan sulit bagi Huawei.

Kemungkinan paling kecil adalah mengembangkan CPU dan GPU sendiri, tanpa arsitektur besutan Arm. Huawei harus menciptakan arsitektur alternatif yang cocok dengan Android, dan ini tentu akan membutuhkan waktu yang tak sedikit.

Bisa dibilang, Huawei kini dirundung kondisi yang makin sulit dan tak akan tertolong kecuali blacklist dari Pemerintah AS dicabut.

Menurut Anda?

0 komentar:

Posting Komentar